Minggu, 17 Juni 2012

What Will I Be?

  Akhirnya bisa ngeblog juga setelah kemarin2 ngidam ngeblog tapi terbentur sama persiapan lomba Public Speech, yang baru dilaksanakan kemarin Minggu dan Alhamdulillah bisa dapet juara 2, untung ga ngeblog #eh

  Oke sekarang aku mau nulis tentang... apa ya? yak sesuai judul What Will I Be pastinya menjurus ke masa depan. Masa depan memang unpredictable karena itu merupakan takdir Tuhan dan kadang.. apa yang telah kita rencanakan tidak sesuai dengan skenario-Nya. Tapi manusia tidak boleh pasrah begitu saja karena bagaimanapun kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang kita inginkan

  Baiklah aku akan bercerita tentang planning masa depanku. Dulu, awal kelas X tekadku sudah bulat bahwa aku akan menjadi seorang scientist, dari kelas X aku mungkin manusia paling aktif di ekskul KIR (Karya Ilmiah Remaja). Setiap harinya aku habiskan untuk menulis riset, observasi, menguji dll. Sampai-sampai aku mengorbankan masa remajaku. Jika biasanya anak seumuranku hangout dengan teman-teman mereka, Aku memilih untuk berdiam diri dengan buku-buku dan internet source (sampai mata ini minus 1,5) Selain di bidang ini juga aku punya sedikit potensi akademik. Aku aktif di beberapa mata pelajaran khususnya Kimia
dan Biologi. Guru-guru juga memotivasiku untuk terus mengembangkan potensiku di bidang akademik. Akhirnya, kelas 1 pun kuhabiskan dengan jalan akademis. Saat itu pun cita-citaku sudah bulat ingin menjadi orang akademik

  Tapi..... masuk di kelas XI segalanya berubah. Mungkin karena aku jenuh atau bagaimana perlahan aku tinggalan buku-buku pengetahuan itu. Ya, aku berpaling ke bidang jurnalistik sosial. Aku mulai tertarik dengan bidang filsafat. Tapi aku tetap menulis. Jika kelas X aku menulis tentang konservasi, elektromagnetik,biologi dll. aku berubah menulis tentang Psikologi,filsafat,sosial dll. Guru KIRku juga heran. Beliau sempat menyuruhku kembali menulis tentang pengetahuan saja karena tulisan-tulisan filsafatku tidak ada dasar, tidak ada sumber wacana dan landasan teori yang kuat, memang begitu. Ketika guruku bertanya: "Loh ini landasan teorinya gimana? kok ndak dicantumkan?" . Aku hanya menjawab "Dari otak dan pikiran saya bu" . Waktu itu aku menulis tentang Kesalahan Sistem Pendidikan di Indonesia dan landasan teorinya memang tidak ada. Akhirnya guruku mengijinkan setelah karya tulisku menang di kompetisi, hehe. Dan saat itu aku ingin menjadi: Penulis

  Kelas XI, aku benar-benar meninggalkan potensi akademikku. Aku lebih suka membaca buku-buku sastra daripada sains. Kelas XI aku mulai menekuni bidang Public Speaking. Aku juga memulai berbaur dengan teman-temanku, dan akhirnya banyak waktu kuhabiskan dengan teman-teman. Saat itu mindset dan cita-citaku berubah: Menjadi seorang motivator/penyuluh/speecher dll. Aku terus mengimprove bakatku di bidang ini dan berhasil memenangkan lomba Penyuluhan. Tekadku semakin besar dan bulat.

  Sadar dengan keadaanku yang berubah, karena nilaiku dibidang Akademik mulai bungee jumping guruku menasehatiku. Meskipun beliau juga senang dengan pencapaianku yang sekarang tapi aku tetap disuruh jangan meninggalkan pelajaran-pelajaran yang biasa aku kuasai. Aku hanya mengiyakan. Meskipun aku masih malas belajar kembali dengan Kimia,Biologi,Matematika dll. Kemalasanku pun bertambah, ketika itu aku menekuni dunia perfilman (baca disini dan disini) Membuat filmku yang pertama banyak mengambil jam pelajaran. Karena aku banyak melakukan shooting di jam sekolah maka aku dan crew pun harus banyak ijin. Guru2 pun banyak yang mengkritik kami karena banyak meninggalkan pelajaran. Tapi aku dan teman-teman tetap maju. Sampai akhirnya kami mendapat juara, dan tekadku pun bulat : Aku ingin menjadi Sutradara (kalau divisualisasikan begini : Aku membuang buku pelajaran dan berteriak, "FUCK THIS SHIT I WANNA BE A DIRECTOR)
Tekad menjadi sutradaraku menutup tahun pelajaran semester pertama...

   Semester ke 2 dimulai, guru biologiku menyuruhku mengikuti olimpiade biologi. Meskipun aku banyak meninggalkan pelajaran tapi khusus pelajaran biologi selalu aku sempatkan untuk belajar sehingga nilai-nilaiku dikelas lumayan. Aku pun mencoba, belajar untuk mengikuti olimpiade biologi. Kali ini temanya lebih khusus, banyak tentang genetika, bioteknologi, dan lingkungan. Tak disangka aku berhasil menjadi juara 1. Cita-citaku pun berubah drastis : Aku ingin menjadi seorang Ahli Biologi, a Biologist. Mindset ini aku dapat setelah memenangkan debat dengan dosen-dosen biologi. Aku pun merasa sepertinya keren sekali bisa melakukan banyak penelitian di biologi. Terutama dibidang rekayasa genetika. Guruku juga kembali senang karena aku sepertinya telah kembali ke 'jalan yang benar'

  Saat itu aku sebenarnya juga bingung, mau jadi apa sebenarnya aku. penulis? scientist? sutradara? biologist? politisi? karena aku bingung memikirkannya aku malah terjun ke dunia : musik. Yah ini memang agak aneh, meskipun aku senang mendengarkan musik dan sedikit bisa memainkan alat musik tapi tidak pernah terlintas dibayanganku : menjadi MUSISI. Sebenarnya, salah seorang teman sekelasku yang mengajak. Mereka ingin membentuk group band. Karena mereka belum punya gitaris mereka mengajakku. Mereka juga masih pemula, maka dari itu mereka mengajakku. Biar kita bisa belajar bersama. Aku pun mengiyakan saja, menurutku apa salahnya bermain music. BUT SHIT JUST GOT SERIOUS, yang tadinya hanya main main kami memutuskan untuk les musik. Ya entah bagaimana kami pun mulai les musik, seminggu 2 kali, saat-saat itu aku mulai sedikit bermimpi untuk menjadi : musisi. Tapi ini tidak bertahan lama, karena aku harus menghadapi lomba film lagi dan akupun berhenti main musik, pada saat yang bersamaan datang juga olimpiade biologi, diawal aku sedang mempersiapkan filmku. Aku pun bingung. Bagaimana mungkin aku bisa membuat film jika aku harus mengikuti bimbingan biologi? dilema. Suatu pertanyaan muncul, Biologist or Director? jeng jeng... akhirnya aku memutuskan untuk totalitas pada filmku, tapi aku tetap mengikuti olimpiade biologinya meskipun hanya belajar sedikit. Dan hasilnya... filmku sukses dan biologiku fail. Yah sesuai dengan usaha yang dilakukan. 

  Mulai saat itu, jati diriku berubah, Dari orang science menjadi orang sastra. Aku merasa sudah benar memilih jalanku, meskipun aku tau... prospek, masa depan orang science relevan lebih bagus daripada orang sastra (finansial) tapi bukan berarti orang sastra tidak bisa. Buktinya, banyak penulis,sutradara,musisi yang jauh lebih sukses daripada profesor.

Baiklah, sekarang coba aku tentukan cita-citaku :
Aku ingin menjadi penulis, penulis yang menulis tentang science meskipun aku tidak memiliki gelar science nantinya, silent scientist. Dan dari tulisan2ku aku ingin menjadikannya film. Ya, film. Aku rasa passionku ini connected, dengan menjadi penulis aku juga bisa menjadi sutradara.
   Yah tapi kadang kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. What will i be is depend on His scenario. But i'll try to fit with what i want. Bisa saja aku menjadi sesuatu yang lain, bisa saja aku sudah meninggal sebelum bisa mencapai itu, bisa saja aku terganjal oleh suatu halangan. Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan tetap positif ,berbaik sangka dan terus berusaha. Man jadda wa jada!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

____________________________________________________________________________________